Di era digital saat ini, kesadaran akan arti penting konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab terus meningkat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 12 yaitu mengurangi sampah kertas lewat penggunaan teknologi. Namira, sebagai seorang mahasiswi Administrasi Pendidikan di Universitas Negeri Malang, telah mengambil suatu langkah yang konkret dalam upaya ini dengan beralih secara sepenuhnya ke metode pencatatan digital.
Setiap hari, para mahasiswa sering menggunakan banyak kertas untuk berbagai keperluan akademik, seperti mencatat materi perkuliahan, mengerjakan berbagai tugas, serta mencetak dokumen. Namira menyadari tentang ketergantungan pada kertas ini. Ketergantungan tersebut dapat dikurangi secara signifikan dengan memanfaatkan teknologi. Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk menggunakan beberapa perangkat digital, seperti laptop dan tablet, serta beragam aplikasi pencatatan digital, seperti Google Docs, Notion, dan OneNote.
“Kita hidup di zaman digital saat ini, jadi kertas tak lagi diperlukan.” Dengan teknologi, kita dapat mencatat lebih rapi serta mudah dicari kapan saja. “Selain itu, catatan digital juga memiliki cukup banyak keunggulan. Seperti yang dikatakan Namira, catatan digital minim risiko rusak karena terkena air atau hilang karena sudah tersimpan dengan aman secara digital.”
Dengan semakin banyak mahasiswa yang mengadopsi pencatatan digital, konsumsi kertas secara keseluruhan dapat dikurangi secara signifikan, yang berarti lebih sedikit pohon yang ditebang untuk produksi kertas. Hal ini secara langsung membantu secara signifikan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti deforestasi besar-besaran dan peningkatan limbah kertas yang sangat sulit didaur ulang.
“Kita tidak hanya menghemat kertas, tapi juga membantu menjaga lingkungan. Jika semua mahasiswa beralih ke catatan digital, bayangkan berapa banyak pohon yang bisa diselamatkan,” tambahnya.
Menurut data dari World Wide Fund for Nature (WWF), produksi satu rim kertas (500 lembar) dapat menghabiskan sekitar 6% dari satu pohon dewasa. Jika setiap mahasiswa menggunakan setidaknya satu rim kertas dalam satu semester, maka dalam skala besar, jumlah pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan akademik ini akan sangat besar. Dengan beralih ke catatan digital, kebutuhan terhadap produksi kertas dapat ditekan, sehingga membantu menjaga kelestarian lingkungan.
Namira berharap langkah kecil yang ia lakukan ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk mengurangi penggunaan kertas dalam kehidupan akademik mereka. Ia juga berharap kampus-kampus lain di Indonesia dapat mulai menerapkan kebijakan yang mendorong penggunaan teknologi sebagai alternatif pencatatan manual.
Selain itu, Universitas Negeri Malang sendiri mulai mempertimbangkan untuk memberikan fasilitas lebih bagi mahasiswa yang ingin beralih ke catatan digital, seperti penyediaan akses internet yang lebih baik, pelatihan penggunaan aplikasi pencatatan, serta penyediaan perangkat digital bagi mahasiswa yang membutuhkan.
“Saya berharap semakin banyak kampus yang menerapkan cara serupa, sehingga kita bersama-sama bisa mengurangi limbah kertas dan menjaga lingkungan tetap lestari,” ujar Namira.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran dan dukungan terhadap penggunaan teknologi dalam kehidupan akademik, langkah-langkah sederhana seperti yang dilakukan oleh Namira dapat menjadi bagian dari solusi global dalam mencapai konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab sesuai dengan tujuan SDGs 12.