Kemenangan membanggakan diraih oleh tim futsal Program Studi Administrasi Pendidikan (AP) dalam ajang Dekan Cup Futsal 2025 yang digelar pada 9 Mei di Nikimirah Futsal, Suhat. Dalam laga perebutan tempat ketiga, tim AP sempat tertinggal 0-2 dari tim Prodi PLB, namun berhasil membalikkan keadaan dan menang 6-2. Hasil ini menjadi pencapaian luar biasa bagi tim yang sebelumnya hanya menargetkan babak semifinal.
Tim terdiri dari 10 pemain lintas angkatan dan satu pelatih, Mas Wildan, dari angkatan 2021. Meski berasal dari tahun masuk yang berbeda, kekompakan tetap terjalin tanpa hambatan. Dengan persiapan yang hanya berlangsung dua minggu, kapten tim berinisiatif mengatur latihan intensif dan sparring demi membangun chemistry yang kuat. Semangat kolektif ini membawa tim melewati berbagai tantangan, termasuk adu penalti melawan KKM 3 dan semifinal ketat melawan BK.
Lebih dari sekadar raihan trofi, kemenangan ini menjadi simbol semangat hidup sehat dan produktif di kalangan mahasiswa. Aktivitas olahraga yang mereka jalani tidak hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap SDG 3, yaitu menjamin kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan di segala usia. Partisipasi aktif dalam kompetisi seperti ini menunjukkan bagaimana gaya hidup sehat bisa dimulai dari lingkungan kampus.
Selain itu, proses latihan dan pertandingan juga menjadi sarana pembelajaran non-formal yang mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga mengembangkan keterampilan penting seperti kepemimpinan, strategi, kerja sama tim, komunikasi efektif, dan pengambilan keputusan dalam tekanan semua merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter dan kesiapan hidup.
Menurut kapten tim, pencapaian ini adalah hasil dari proses dan semangat juang kolektif. Ia menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya untuk terus semangat dalam berproses. “Kalah menang itu biasa, tapi terus maju adalah keharusan. Tahun depan, kita rebut juara di semua cabang,” ujarnya menutup.
Sekelompok mahasiswa Program Studi Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) yang terdiri dari Isa Aini Yushan Marshanda, Isna Salsabila, dan Maulia Dyah Risanti melaksanakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui kegiatan magang di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Selama periode 13 Februari hingga 30 April 2025, ketiga mahasiswa tersebut berperan aktif sebagai peneliti dan penulis dalam penyusunan naskah akademik untuk pengajuan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) elemen budaya tradisional “Kolok Goblok” dari Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama lintas sektor yang melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Pemerintah Desa Poncokusumo, kelompok sadar wisata (POKDARWIS), masyarakat lokal, serta dosen Universitas Brawijaya, I Wayan Suyadnya, yang bertindak sebagai pembimbing penulisan naskah. Penyusunan naskah akademik ini dilakukan di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta di lingkungan Universitas Brawijaya, dengan lokasi penelitian lapangan di Balai Desa Poncokusumo.
Mahasiswa terlibat langsung dalam proses pengumpulan data lapangan, wawancara dengan narasumber budaya, studi literatur, dan penyusunan deskripsi budaya secara ilmiah. Naskah akademik yang dihasilkan memuat aspek historis, nilai budaya, fungsi sosial, serta urgensi pelestarian elemen budaya Kolok Goblok. Tradisi ini memiliki makna spiritual dan simbolik yang kental serta merupakan bagian integral dari ritual adat masyarakat Desa Poncokusumo. Dalam proses penyusunan, mahasiswa juga melakukan revisi mendalam berdasarkan arahan pembimbing untuk memastikan struktur penulisan sesuai standar jurnal ilmiah dan memenuhi kriteria akademik yang berlaku dalam pengajuan WBTb ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Kegiatan penyusunan naskah akademik ini berdampak luas dan signifikan. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam riset kebudayaan dan pelatihan penulisan ilmiah, yang memperkuat literasi budaya dan kapasitas akademik mereka. Dari sisi sosial, keterlibatan masyarakat lokal dalam proses dokumentasi budaya turut memperkuat identitas serta kebanggaan terhadap tradisi leluhur. Di sisi lingkungan, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Kolok Goblok mendorong pelestarian alam berbasis budaya. Sementara itu, dari aspek kelembagaan, kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal mencerminkan implementasi nyata SDGs poin 17 tentang partnership for the goals atau kemitraan untuk pencapaian tujuan.