Grand Final National Essay Competition (NEC) 2025 yang diselenggarakan secara daring pada 3 Mei 2025 menjadi momen membanggakan bagi tim mahasiswa Program Studi Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang yang terdiri dari Satya Eka Pangestu, Shofiyah Damayanti, dan Wildan Darma Setiawan. Tim ini berhasil meraih Juara 3 Umum dalam ajang bergengsi tersebut, yang diikuti oleh 113 peserta dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik secara individu maupun tim. Kemenangan ini bukan hanya bentuk pengakuan terhadap keunggulan akademik mereka, tetapi juga memperlihatkan peran aktif mahasiswa dalam menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Kompetisi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Administrasi Pendidikan (HMD AP) Universitas Negeri Malang ini mengangkat tema “Pendidikan dan Teknologi sebagai Pilar Demokrasi Masa Depan.” Setelah melalui proses seleksi karya tulis yang ketat pada 20–22 April 2025, sepuluh tim terbaik dinyatakan lolos sebagai finalis dan diumumkan pada 30 April. Dalam Grand Final yang digelar melalui platform Zoom, masing-masing tim mempresentasikan gagasannya secara infografis dan argumentatif di hadapan dewan juri. Tim Satya mengangkat ide pemanfaatan teknologi sebagai alat untuk memperkuat partisipasi publik dalam pembangunan daerah secara inklusif dan inovatif, sebuah pendekatan yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goal (SDG) 9: pembangunan industri, inovasi, dan infrastruktur berkelanjutan.
Satya Eka Pangestu, ketua tim, menyampaikan bahwa gagasan mereka lahir dari kepedulian terhadap rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, terutama di daerah.
“Kami melihat bahwa banyak masyarakat yang sebenarnya ingin terlibat, tapi belum memiliki sarana atau akses. Dari situ kami terpikirkan bagaimana teknologi bisa menjadi alat bantu partisipasi publik yang lebih inklusif,” ujar Satya. Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam membangun solusi berbasis teknologi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. “Menurut kami, generasi muda harus hadir dengan ide-ide yang membumi. Bukan sekadar canggih, tapi bisa diterapkan dan berdampak langsung pada masyarakat,” jelasnya.
Kemenangan tim Satya memberikan pengaruh positif terhadap iklim akademik dan semangat berinovasi di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa mulai memandang lomba esai bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai media ekspresi gagasan yang konstruktif dan berdampak sosial. Ajang NEC 2025 menjadi bukti nyata bahwa forum ilmiah seperti ini penting dalam menumbuhkan pemikiran kritis, semangat kolaboratif, dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui semangat intelektual yang dikombinasikan dengan kesadaran sosial, mahasiswa menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penonton, melainkan aktor penting dalam pembangunan masa depan bangsa.