Upaya pengelolaan dan penghematan energi terus diterapkan di Laboratorium dan Perpustakaan Administrasi Pendidikan (Lab AP) Universitas Negeri Malang sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Peran penjaga dan pengelola laboratorium menjadi kunci dalam memastikan penggunaan energi listrik, seperti lampu, AC, dan perangkat elektronik lainnya, digunakan secara bijak dan efisien.
Salah satu penjaga Lab AP, Fatma Jaza Al Husna, yang menjalani kegiatan internship sejak Februari 2025 hingga saat ini, menjelaskan bahwa tugasnya tidak hanya sebatas menjaga kondisi laboratorium dan perpustakaan tetap rapi, tetapi juga memastikan penggunaan energi tetap terkendali. Selain melakukan pendataan dan labelisasi buku, Fatma juga melayani peminjaman serta pengembalian alat dan buku, sekaligus memastikan seluruh perangkat elektronik dimatikan setelah jam operasional lab berakhir.
Dalam praktik sehari-hari, penggunaan AC di Lab AP tetap disesuaikan dengan kondisi ruangan yang cukup pengap, namun pengawasan dilakukan secara ketat. Setiap kali laboratorium tutup, seluruh lampu, AC, dan komputer dipastikan dalam kondisi mati, bahkan kabel perangkat elektronik dilepas dari stop kontak untuk mencegah risiko panas berlebih dan korsleting. Selama masa penjagaannya, Fatma mencatat kondisi penggunaan energi di laboratorium relatif aman, meskipun sempat dilakukan penggantian AC akibat kerusakan yang menyebabkan pendinginan tidak optimal.
Hal serupa juga disampaikan oleh Sabrina Oktafiani, mahasiswa Departemen Administrasi Pendidikan yang juga menjalani internship sebagai pengelola Lab AP sejak Februari 2025. Ia bertugas melayani peminjaman buku, alat, serta ruang laboratorium dan perpustakaan, termasuk mendukung kegiatan akademik seperti penjajakan dan berita acara skripsi. Menurutnya, disiplin mematikan perangkat elektronik setiap akhir shift menjadi kebiasaan penting untuk menjaga keberlangsungan fasilitas laboratorium.
“Pengelolaan energi sangat penting karena jika digunakan terus-menerus tanpa kontrol bisa menimbulkan panas dan berisiko merusak peralatan,” ujar Fatma Jaza Al Husna. Sementara itu, Sabrina Oktafiani menambahkan, “Kami selalu memastikan setiap shift selesai, semua lampu, AC, dan komputer sudah mati agar fasilitas lab tetap terjaga dan dapat digunakan dalam jangka panjang.”
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama ketika stop kontak digunakan secara penuh oleh pengunjung laboratorium. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan ekstra dari petugas untuk mengingatkan pengguna agar tidak membebani jaringan listrik secara berlebihan. Secara umum, kesadaran mahasiswa dan pengunjung lab sudah cukup baik, meskipun dalam beberapa situasi masih diperlukan pengingat dari petugas.
Pengelolaan energi di Lab AP ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, khususnya dalam mendorong efisiensi energi di lingkungan pendidikan. Melalui kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu di siang hari, mengontrol penggunaan AC, serta penerapan SOP penggunaan energi, laboratorium tidak hanya mendukung kegiatan akademik, tetapi juga berkontribusi dalam membangun budaya hemat energi dan tanggung jawab lingkungan di kalangan sivitas akademika.