Pada Rabu, 1 Oktober 2025, Departemen Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Seminar Nasional dan Proceedings Series of Educational Studies ke-3. Kegiatan ini berlangsung di Aula D3 FIP UM dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, serta praktisi pendidikan dari berbagai daerah.

Seminar ini mengangkat isu strategis mengenai tantangan besar dalam manajemen sumber daya manusia (SDM) pendidikan yang berdampak langsung pada pemerataan akses belajar, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Tema tersebut dipilih karena selaras dengan misi global Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yakni memastikan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan merata bagi semua.

Tiga tokoh pendidikan hadir sebagai narasumber, yaitu Dr. Bagus Hary Prakoso, S.E., M.A. (peneliti BRIN), Dr. Raden Bambang Sumarsono, M.Pd. (dosen senior Universitas Negeri Malang), serta Muh. Subhan, S.Hum., M.Pd. (Kepala MTs Ummu Aiman). Masing-masing memberikan sudut pandang berbeda sesuai dengan bidang keahliannya, mulai dari riset akademis, kebijakan pendidikan, hingga praktik nyata di lapangan.

Penyelenggaraan seminar ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya tantangan pendidikan di Indonesia, seperti ketimpangan distribusi guru, rendahnya literasi kritis, hingga perlunya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Forum ini diharapkan melahirkan strategi berbasis bukti untuk memperkuat kapasitas pendidik sekaligus memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan berkualitas.

Acara berlangsung dalam bentuk pemaparan materi, diskusi panel, dan sesi tanya jawab interaktif. Para pemateri tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga menghadirkan refleksi nyata dari dunia pendidikan, sehingga peserta memperoleh wawasan yang aplikatif.

Dalam paparannya, Dr. Bagus Hary Prakoso menggarisbawahi pentingnya literasi digital bagi guru di era kecerdasan buatan. Ia menegaskan, “Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi mediator literasi kritis. Pemanfaatan AI harus diarahkan pada refleksi dan produksi pengetahuan, bukan sekadar konsumsi informasi.”

Sementara itu, Dr. Raden Bambang Sumarsono menekankan persoalan klasik yang masih membayangi dunia pendidikan, yakni distribusi tenaga pendidik. Dengan lantang ia menyampaikan, “MSDM unggul adalah penggerak fundamental dalam pemerataan kualitas pendidikan. Distribusi guru yang merata dan berbasis kompetensi merupakan kunci mewujudkan SDGs 4.”

Dari sisi pengalaman praktis, Muh. Subhan menuturkan realitas yang ia hadapi sebagai kepala madrasah. “Sebagai kepala madrasah, saya melihat pemerataan pendidikan bukan hanya soal sarana fisik, tapi bagaimana setiap anak mendapatkan guru yang kompeten dan berkomitmen,” ujarnya.

Melalui seminar ini, para peserta semakin memahami bahwa pemerataan akses pendidikan tidak cukup dengan membangun sarana fisik semata, tetapi harus diiringi dengan penguatan kualitas SDM pendidik dan strategi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan cara itu, cita-cita besar untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan dapat diwujudkan sesuai arah SDGs.

 

Translate »